ESENSI DAN EKSISTENSI MAHASISWA
Sebuah kalimat dikemukakan oleh seorang filsuf yang sangat terkenal yaitu Rene Des Cartes, yang berbunyi: "Cogoti Ergo Sum" yang berarti: "Aku Berpikir Maka Aku Ada". Kalimat ini sudah sangat dikenal oleh kita kebanyakan. Rene Des Cartes merupakan Filsuf kaum rasionil barat yang berpengaruh pada cara pikir para filsuf-filsuf setelah dia. Dia berpendapat bahwa berpikir merupakan kepastian dan akal merupakan sebuah kebenaran yang mutlak atau yang hakiki. Kebenaran hanya dapat diperoleh melalui suatu proses berpikir (akal).
Hal senada juga dikemukakan oleh Aurelius Augustinus, Dia mengemukakan bahwa "meskipun berpikir dalam diri manusia ada batasnya namun melalui berpikir orang dapat mencapai kebenaran yang tiada batasnya. Pandangan ini menentang pemikiran atau sikap skeptis (ragu-ragu). Orang dapat meragukan sesuatu, tetapi satu hal yang tidak dapat diragukan olehnya, yaitu bahwa ia ragu-ragu".
Itulah sebagian pendapat dan bagaimana para filsuf ketika itu sudah bisa mengembangkan pikiran mereka untuk mencari suatu kebenaran yang hakiki dalam hidup. Mereka berupaya sedemikian rupa untuk mejawab segala "keanehan-keanehan" yang terjadi di lingkungan sekitar pada masanya. Mereka menganggapnya sebagai problem yang sangat perlu untuk segera diatasi dengan memberikan jawaban yang pasti.
Saudara pembaca yang budiman, apa relevansinya dari pandangan-pandangan filsafati yang dikemukakan di atas dengan realita aktivitas dari setiap individu sebagai manusia-pada umumnya-dan mahasiswa-pada khususnya? Pada kesempatan ini saya hendak mengemukakan pandangan mengenai esensi dan eksistensinya mahasiswa yang seharusnya dapat memberikan arti dan dampak yang positif, bukan hanya berpengaruh pada diri pribadinya untuk kesuksesan di perguruan tinggi tapi juga jauh dari pada itu bagaimana menjadi seorang mahasiswa, yang juga dapat memperhatikan hal-hal di luar dirinya secara pribadi untuk dikembangkan.
Saudara, ketika kita masih sebagai seorang yang berstatus siswa, sejak TK, SD, SLTP, SLTA sampai pada tingkat perguruan tinggi, ilmu pengetahuan diajarkan kepada kita, juga ilmu-ilmu tentang budi pekerti, yang semuanya hanya untuk satu tujuan, yaitu: kalau nantinya ketika kita menyelesaikan studi, diharapkan kita dapat menerapkan atau mempergunakan ilmu yang kita dapat tersebut untuk diri pribadi dan terlebih untuk orang lain. Pada tingkat perguruan tinggi mahasiswa dituntut untuk menguasai ilmu semaksimal mungkin atau dengan kata lain seorang mahasiswa harus menjadi seorang yang professional, bahkan jika mungkin dapat menjadi seorang yang inofator untuk mengembangkan ilmu yang digelutinya dengan tujuan demi pengembangan ilmu dan juga untuk pencapaian kesejahteraan secara pribadi. Intinya bahwa esensi dari seorang mahasiswa adalah pelajar yang memiliki atau menguasai ilmu pengetahuan yang luas yang mampu menjaga kepribadian yang posistif dan terarah, sehingga dapat memberikan konsekwensi yang positif bagi dirinya terlebih untuk lingkungan sosialnya. Karena itulah mahasiswa sering disebut dengan kaum muda yang terpelajar atau kaum cendekiawan yang perlu mendapatkan penghormatan.
Saudara pembaca yang budiman, tapi sangat disayangkan, sangat ironis memang bahwa pemahaman tentang dirinya sebagai seorang yang berilmu namapaknya tidak disadari ataupun kalau disadari tidak mendapatkan perhatian yang dalam untuk dihormati. Apa maksudnya? Sebenarnya jika kita sadarai bahwa proses beraktifitas dalam perjuangan sebagai mahasiswa dalam menuntut ilmu selama bertahun-tahun, terjadi ketidak-seimbangan antara tujuan secara pribadi-keberhasilan dan kesejahteraan-dengan tujuan diluar diri pribadi-lingkungan sosial. Yang saya maksudkan di sisni, bahwa ini bicara mengenai soal bagaimana memperhatikan tentang masalah-masalah "secara pribadi" dengan bagaimana memperhatikan mengenai masalah-masalah pada "lingkungan sekitar". Dengan kata lain bahwa, di samping kita sebagai mahasiswa dalam menjalankan studi dikampus, kita juga harus mampu melihat dan memperhatikan serta mengatasi masalah-masalah sosial yang terjadi di lingkungan sekitar tempat tinggal kita. Inilah yang saya katakana di atas bahwa terjadi ketidak-seimbangagn antara dua hal tersebut, bahwa mahasiswa pada umumnya hanya terlalu banyak memperhatikan kepentingannya secara pribadi ketimbang masalah orang lain.
Perlu kita pahami bahwa, seorang mahasiswa dalam aktivitasnya diperhadapkan dengan dua lingkungan yang berbeda, dua situasi yang berlainan, dan dua keadaan dengan berbagai persoalan yang berbeda. Dua lingkungan ini saya sebut lingkungan sosial internal-pada kampus-dan lingkungan sosial eksternal-tempat dimana mahasiswa itu tinggal/berasal. Kedua lingkungan ini memiliki persoalan-persoalan sosial yang unik dan rumit.
Kenyataan yang terjadi, kita dapat melihat bahwa pada umumnya mahasiswa hanya lebih mementingkan kesejahteraannya secara pribadi ketimbang masalah-masalah sosial yang terjadi diluar dari padanya secara umum. Ada hal-hal umum yang seharusnya perlu dikritisi hanya mala dibiarkan, yang sebenarnya masalah-masalah itu sangat merugikan bagi dirinya, hanya dibiarkan tanpa mempertanyakannya. Memang mengenai prinsip fleksibilitas menjadi roh yang tak bisa dihindari, namum hal itulah yang melenyapkan konsistensi diri yang pada dasarnya ada dalam diri setiap mahasiswa yang berwujud sebagai hati nurani, dimana hati nurani ini dapat membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar. Apalagi kalau bicara mengenai mahasiswa pada tingkat akhir, wah…bicara mengenai kritik-mengkritik seolah-olah menjadi "setan" yang hendak memusnahkannya yang harus secepatnya untuk dihindari (saya yakin saudara pembaca dapat memahami maksud saya). Yang ada hanya fleksibilitasnya saja. Memang dalam hal ini masalah fleksibel pada mahasiswa itu sangat perlu, (saya bukan seorang yang anti fleksibilitas) tetapi yang menjadi keanehan di sisini bahwa, pada awal menjadi seorang mahasiswa, tingkat kekritisan sangat tinggi, sampai-sampai kadangkala ada persoalan yang tak perlu dikritisi, eh malah dipersoalkan dan bahkan dilakukan secara berlebihan. Biaya administrasi yang naik seribu-dua ribu rupiah, dikritik habis-habisan. Tetapi kalau sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir yang super sibuk, sifat kritikusnya "loyoh" sudah!!. Biaya ujian yang banyak dipunguti meskipun tidak jelas, tidak pernah digugat. Harusnyakan paling tidak-meskipun akan tetap dipenuhi oleh mahasiswa-tapi dipertanyakan dulu dong!!, diperdebatkan terlebih dahulu dong!! aneh juga ya!?
Jika begini kita dapat menginterpelasi sifat kritis yang pernah ada pada mahasiswa, jangan-jangan hanya sebuah kepura-puraan demi popularitasnya.
Saudara, itu hanya sebagaian kecil dari persoalan-persoalan yang ada di lingkungan kampus (internal) yang tak mampu untuk diatasi. Bagaimana dengan keunikan dan kerumitan dalam lingkungan sosial kemasyarakatan yang merupakan bagian komprehensif dari aktivitas mahasiswa tersebut? Bisakah dia melihat dan masuk untuk menjadi salah satu bagian dari solusi atas segala persoalan-persoalan yang rumit itu? Sejauh mana mahasiswa saat ini membangun daerahnya dengan jalan mengatasi persoalan-persoalan yang sangat penting untuk diatasi?. (Di sini saya dapat mengambil contoh mengenai masalah-masalah dalam bidang pendidikan). Bisakah sebagai mahasiswa yang berintelektual yang tinggi dapat menfokuskan sebagian aktivitasnya pada masalah ini?
Masalah yang urgen ini seharusnya segera diatasi dan dalam hal ini membutuhkan kita sebagai mahasiswa untuk dapat melakukannya. Sebab soal pendidikan, masih banyak persoalan yang nyata yang kita dapat saksikan, yang menyimpang dari apa yang diharapkan oleh kita semua sebagai warga mayarakat. Pemerintah nampaknya belum sepenuhnya atau belum dengan sungguh-sungguh memperhatikan mengenai kesejahteraan dalam bidang pendidikan. Mulai dari masih adanya anak-anak yang masih usia sekolah namun tidak bersekolah, sampai pada penyediaan berbagai fasilitas persekolahan yang belum tersedia. Ini perlu mendapatkan perhatian yang serius dan ketekunan oleh kita semua terutama sebagai mahasiswa. Sebagai mahasiswa seharusnya mampu untuk masuk jauh ke dalam persoalan-persoalan tersebut dan menyentuhnya serta menjadi pencari solusi sebagai kontribusi atasnya.
Bagaimana mungkin kita akan mencapai suatu kebenaran yang hakiki seperti yang dikemukakan oleh kedua tokoh filsuf di atas (Rene Des Carten dan Aurelius Augustinus), sehingga eksistensi kita sebagai kaum cendekiawan akan diperhitungkan ditengah-tengah masyarakat kalau kita tidak mampu menujukkan pola pikir yang posiktif untuk mengatasi segala persoalan-persoalan yang pelik?. Jika kita adalah sebagai cendekiawan berarti kita adalah juga kaum pecinta kebijaksanaan, dimana kita meng-upayakan kebijaksanaan itu dapat kita raih dengan jalan mempertanyakan dan memberikan jawaban-solusi atas masalah yang terjadi-serta melaksanakan solusi tersebut. Sebagaiman para filsuf terdahulu mempertanyakan segala sesuatu yang ada di luar dari padanya sebagai suatu masalah yang perlu diberikan jawabannya, demikian pula seharusnya kita sebagai mahasiswa yang adalah bagian dari segala persoalan yang ada di luar dari pada kita, berbuat demikian.
Memang bicara mengenai masalah pendidikan berarti kita bicara mengenai masalah yang kompleks. Tetapi ingat!! Tujuan akhir dari pendidikan itu akan berdampak pada kemajuan suatu daerah. Artinya berbagai bidang tidak bisa lepas dari sumber daya manusia yang hebat, sedangkan sumber daya yang hebat ini merupakan output dari pendidikan. Jadi, jika bidang pendidikan masih bermasalah, berarti masalah itu adalah masalah yang utama yang harus secepatnya mendapatkan perhatian yang serius dalam arti mencarikan solusinya.
Pemerintah yang merupakan leader untuk solusi atas persoalan-persoalan itu nampaknya belum secara maksimal atau belum memuaskan memberikan dampak yang langsung menjawab kepada masyarakat. Nampaknya pemerintah belum serius memperhatikannya, sebab nyatanya masih banyak keanehan atau penyimpangan yang terjadi seperti yang saya sampaikan di atas.
Saudara pembaca yang saya hormati, untuk melihat masalah ini seharusnya sebagai mahasiswa, dengan mempergunakan sumber daya yang dimiliki-ilmu pengetahuan yang di kuasai-harus berani menjadikan ini sebagai sebuah kewajiban yang mutlak untuk diatasi. Namun sangat disayangkan, umumnya mahasiswa membentuk kelompok yang mengatasnamakan kelompok atau perhimpunan atau organisasi kemahasiswaan, namun tujuan utamanya jauh dari garisnya sebagai mahasiswa. Atas nama organisasi kemahasiswaan, tapi masalah-masalah sosial seperti ini tidak pernah disentuh sebagai tujuan organisasi yang terutama. Ini dikarenakan-seperti yang saya utarakan pada awal tulisan ini-karena mahasiswa pada umumnya tidak memahami dengan benar akan esensi dan eksistensinya sebagai mahasiswa.
Saudara pembaca, teman-teman mahasiswa, pada kesempatan ini saya dapat katakana bahwa "berjuanglah terus memperjuangkan segala persoalan-persoalan sosial yang terjadi, berjuanglah dan perhatikanlah mengenai masalah-masalah pendidikan yang ada". Buatlah itu sebagai bagian pokok di tengah aktifitas teman-teman dalam menuntut ilmu. Lihat dan masuklah lebih jauh ke dalam persoalan-persoalan itu serta berikanlah jalan keluar bagi itu semua. Karena semua itu demi kemajuan kita bersama. Dengan demikian kita akan layak disebut sebagai kaum-kaum cendekiawan, kaum-kaum intelektual yang hebat dan memiliki kekuatan untuk membendung segala pembodohan-pembodohan yang membudaya sampai sejauh ini. Dimana mata hati kita sering dibutakan dengan fleksibilitas yang terlalu berlebihan tanpa memperhatikan esensi hati nurani yang sebenarnya yang dimiliki, yakni kemampuan untuk mengetahui dan memahami mengenai hal yang benar dan hal yang salah, mana yang patut dikerjakan dan mana yang patut dihindari. Jangan ada ketidak-seimbangan lagi antara pemenuhan secara pribadi dengan apa yang namanya kepentingan orang banyak. Jangan mendiskreditkan masalah-masalah sosial itu, perhatikanlah itu teman-teman, sebab itu sangat penting menjadi bagian dari aktivitas sebagai mahasiswa.
Senin, 04 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar